Selasa, 19 Maret 2019

Kisah Abdul Kadir Abarora, Salah Satu Jamaah Yang Selamat dari Aksi Teror Selandia Baru Berkat Rak Alquran

Dunia telah diguncangkan oleh kejadian pembantaian yang sangat tidak manusiawi di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru.
Tak ada yang mengira juga, salat Jumat di Masjid Al NoorChristchurchSelandia Baru pada tanggal 15 Maret lalu akan berakhir tragis. Saat itu, imam salat baru mulai menyampaikan khotbah dalam bahasa Inggris. Tiba-tiba, melesat tembakan dari arah luar.
Seorang pria asal Palestina langsung terkapar. Pria itu adalah seorang insinyur yang juga mengemudikan taksi di kota itu.
"Dia berjalan untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar, lalu ia melihat teroris itu. Saat ia mencoba lari, pria itu menembaknya," tutur Abdul Kadir Abarora, seorang jemaah yang berhasil selamat, dilansir dari AFP.
Serupa dengan sebagian besar jemaah lainnya, Abarora adalah imigran yang datang dari luar negeri demi menemukan kedamaian dan kehidupan yang lebih baik.
Pria berusia 48 tahun itu datang dari Ethiopia di tahun 2010. Ia pun mencari penghidupan dengan menjadi sopir taksi di Kota Canterbury. Dua minggu lalu, istrinya baru melahirkan putra keduanya.
Tak disangka, seorang pendukung supremasi kulit putih merampas ketenangan hidupnya di hari Jumat (15/3). Pria bernama Brenton Tarrant itu memberondongkan tembakannya ke arah para jemaah yang tak berdaya.
Secara otomatis, Abarora merebahkan tubuhnya di lantai. Ayah 2 anak itu pun merayap ke arah rak tempat menyimpan Alquran. Ia pun menyelipkan tubuhnya di bawah rak kitab suci itu. Meski tubuhnya tetap terlihat, posisinya itu berhasil mengalihkan perhatian pelaku sehingga tak dijadikan target utama.
"Aku hanya berpura-pura sudah mati," tuturnya.
Meski begitu, ia melihat si teroris itu berkali-kali menembak tubuh-tubuh yang sudah tak berdaya.
"Orang ini terus saja memberondong tembakan secara acak ke kanan dan kiri. Ia menghabiskan amunisi pertamanya, lalu mengganti amunisinya, memberondong tembakan lagi. Setelah amunisi keduanya habis, ia menggantinya lagi, lalu mulai memberondong tembakan ke ruangan lainnya lagi," kisahnya.
Ia bisa merasakan peluru menembus tubuhnya.
"Aku pun menunggu giliranku. Setiap terdengar tembakan, aku membatin kalau sekarang giliranku... sekarang giliranku... aku sudah pasrah," ungkapnya.
Ia pun terus berdoa dalam hati dan memikirkan keluarganya.
Setelah menghabiskan amunisi keempatnya, teroris itu pergi dengan mobilnya menuju lokasi berikutnya, Masjid Linwood. Meski begitu, suasana di Masjid Al Noor masih mencekam. Beberapa menit setelah pelaku pergi, tak ada korban yang berani bersuara. Namun, banyak jemaah yang terluka mulai merintih.
Pemandangan yang dilihat Abarora pun seperti neraka.
"Saat aku bangun, kanan dan kiriku hanyalah mayat. Ada darah di mana-mana," ucapnya.
Abarora menjadi salah satu jemaah yang selamat dalam tragedi pembantaian itu. Entah bagaimana keputusannya bersembunyi di bawah rak Alquran, yang jelas hal itu membuatnya bisa bersua dengan istri dan anak-anaknya lagi. Meski peluru menembus kakinya, ia bersyukur nyawanya tidak melayang.
"Ini benar-benar mukjizat," tuturnya.

Sumber: akurat.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar